| | Tema Tahun 2012 : Pelaku Iman Yang Setia

Pergi dan Kerjakanlah

.
0 komentar

Kejadian 11:1-9 Pada perikop ini, menceritakan tentang Tuhan mengacaubalaukan bahasa dan diserakkan manusia keseluruh bumi. Pada ayat 1 mengatakan manusia “satu bahasa” dan “satu logat”, berarti menjadi satu kesatuan dan bahasa merupakan alat pemersatu. Dalam konteks ini, mereka pergi dan menetap disuatu tempat dan hidup berdampingan. Kemudian mereka membuat rencana, yakni membangun kota atau menara yang tinggi, dengan kata lain bahwa mereka memiliki keinginan untuk menbangun masa depan yang lebih baik. Kemudian mereka mencari sebuah “nama”, memberikan nama itu penting, sebagai identitas dan mengenal, hal ini juga adalah baik.


Pembangunan itu menjadi masalah adalah ketika muncul ayat 5 “lalu turunlah Tuhan untuk melihat kota dan menara yang didirikan manusia”, Kemudian Tuhan mengacaubalaukan umat manusia. Apakah yang salah dengan mereka? Tuhan melihat dan menemukan dosa di sana, yakni dosa karena tidak taat, Tuhan minta pergi untuk penuhi bumi, malah menetap supaya tidak terserak. Hal itu adalah sikap pemberontakan kepada Tuhan. Dosa selanjutnya, adanya kesombongan, merasa bisa, dapat melakukan sendiri tanpa Tuhan. Dan kemudian ada spirit pemujaan dewa di sana.
Terdapat beberapa hal yang dapat kita pelajari dari perikop ini, yakni:

1. Taatilah apa yang Tuhan perintahkan Pada waktu itu, Tuhan meminta mereka pergi, berpencar, penuhi bumi. Tetapi mereka lebih memilih menetap, lebih nyaman, lebih tidak ada resiko. Dengan kata lain mereka menciptakan “comfort zone”, dibanding mengikuti perintah Tuhan. Maka ketika Tuhan minta kita pergi, jangan berdiam diri. Taat dan pergilah! Sebagai tandanya bahwa kita ini pergi atau belum, yakni ketika kita merasa semakin sulit melepaskan comfort zone kita. Itu tandanya bahwa kita berdiam di tempat dan tidak pergi`

2. Dari segala sesuatu yang kita kerjakan dalam hidup ini, fokusnya bukan diri kita tapi Tuhan Dari ayat 3-4 berulang kali menggunakan kalimat “marilah kita…” dan “supaya kita…” dengan kata lain bahwa pikiran pikiran seperti itu adalah pikiran yang egois, demi kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Tuhan mau bahwa focus hidup bukan untuk diri sendiri, tapi fokusnya hanya untuk Tuhan.

3. Kita dapat rencanakan tetapi Tuhan yang menentukan Dalam hidup ini, kita boleh memiliki perencanaan, keinginan-keinginan, kerjakanlah semua itu. Tapi ingat bahwa Tuhanlah yang menentukannya. Oleh sebab itu kerjakanlah sekuat tenaga sambil serahkan semuanya kepada Tuhan.

Akhirnya belajarlah cara hidup berbagi dan jangan egois hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga. Berbagi dari apa yang engkau punya, berbagilah mengenai injil, berbagilah kemampuan, financial, nasehat dan sebagainya. Apapun yang kamu kerjakan, kerjakanlah dengan sekuat tenaga dan serahkanlah semuanya kepada Tuhan karena semua itu adalah titipan Tuhan.
Soli deo glory

Baca selengkapnya »»

Saya Sudah Berubah?

.
0 komentar

Saya Sudah Berubah?
Efesus 4 : 17-32

Perubahan dapat bersifat positif maupun negatif. Banyak orang mengalami perubahan karena menguntungkan atau bersifat positif, sebaliknya enggan. Apakah perubahan itu sesuai keinginan Allah atau keinginan diri? Faktanya : Allah menghendaki mengenakan manusia baru dan menjadi anak terang, berarti perubahan itu adalah sesuai kehendak Allah. Perubahan itu sangat penting karena, kita menerima anugerah penebusan Kristus, Allah menghendaki kita menjadi terang dan garam dan supaya tujuan Allah tercapai atas kita (bahwa Allah mempunyai tujuan atas hidup Anda).

Dalam  ayat 17-21 Paulus menjelaskan perubahan hidup sebelumdan setelah mengenal Kristus. Paulus mengatakan bahwa … sekarang tidak lagi demikian, berarti ada perubahan yang cukup signifikan. Hal itu terjadi oleh karena pengenalan akan Kristus, karena menerima anugerah, menerima kebenaran sejati.
Ada 3 poin yang dapat kita pelajari dari perikop ini:

1.      1. Perubahan dapat terjadi pada orang yang mau belajar mengenal Kristus (ayat 17-21)
Lukas 6 : 43 tidak ada pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik juga tidak ada pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Belajar mengenal Kristus artinya adalah mengenal melalui Allah yang menyatakan diriNya, melalui karya penebusan Kristus, pengajaran para Rasul, melalui Firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus. Mengenal itu berarti bukan semata kognitif, mengenal itu adalah dengan hati dan perbuatan, yakni dengan cara memelihara hubungan dengan Tuhan.

2.       2. Perubahan dapat terjadi pada orang yang memiliki tekad dan komitmen ( ayat 22-31)
Perubahan itu tidak terjadi secara otomatis atau alamiah, seperti bayi menjadi dewasa. Masalahnya adalah ketika kita mengenal Kristus, masih mengenakan tubuh yang sama, pikiran yang sama sebelum menerima Kristus, bahkan pengalaman masa lalu yang gelap tidak tiba-tiba hilang, tidak juga berubah menjadi putih. Bahkan demikian juga terjadi pada rasul Paulus, dalam Roma 7 : 22-23 mengatakan …dalam batin suka hukum Allah … tetapi anggota tubuhku menjadi tawanan hukum dosa. Kadangkala mewujudkan perubahan itu tidak mudah, bahkan hopeless. Baru saja mengambil tekad dan komitmen tetapi jatuh lagi, sampai akhirnya frustasi. Maka dibutuhkan tekad dan komitmen disertai dengan kekuatan dari Allah yang memampukan kita mengalami perubahan.

3.       3. Perubahan bukan fenomenal tetapi perubahan itu semakin menyerupai Kristus sehingga berdampak bagi banyak orang (ayat 32)
Sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu. Dalam pasal 5 : 1-3 juga demikian, maka dapat dimengerti bahwa Allah menghendaki kita meneladani Kristus. Sehingga perubahan itu bukan sekedar fenomena, karena perubahan fenomena secara fisik itu bisa membohongi atau mengunakan topeng. Pada bagian akhir ini Paulus menekankan dua topic yang penting dalam perubahan itu yakni KASIH dan PENGAMPUNAN. Dalam peristiwa salib, kasih dan pengampunan adalah dua hal yang sangat penting. Tanpa kasih dan pengampunan tidak ada kekristenan. Karena kasih dan pengampunan kita menerima anugerah terbesar.  Kasih dan pengampunan itu menjadi penting bagi perubahan kita karena dalam proses perubahan rohani itu bukanlah hal yang mudah tetapi dibutuhkan penyangkalan dan kontrol diri, oleh sebab itu dibutuhkan kasih dan pengampunan. Maka, berubahlah dalam pembaharuan budimu sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah dan yang berkenan kepadaNya.
Soli deo glory

Baca selengkapnya »»

Pengaturan Hidup Dengan Prioritas

.
0 komentar

Filipi 3 : 7-8

Ketika kita mengatur hidup ini apa atau siapa yang menjadi prioritas paling pertama di dalam hidup kita?
Kata Paulus: “ apa yang dahulu keuntungan, sekarang kuanggap rugi karena Kristus”. Dahulu menunjukkan keadaan Paulus sebelum berjumpa dengan Yesus kristus. Dahulu paulus memiliki prioritas atau hal yang terutama dalam hidupnya adalah membuat agama Yudaisme menjadi dikenal orang pada masa itu. Maka paulus menjadi orang yang paling giat dalam melaksanakan agam Yudaisme. Ia menjadi orang yang memberikan contoh ketaatan dalam melakukan agama Yudaisme. Iapun mendalami ajaran taurat melalui golongan Farisi bahkan belajar pada guru yang terkenal pada saat itu yaitu Gamaliel. Iapun memiliki posisi yang penting dalam Mahkamah agama Yahudi, semua ini dilakukan karena prioritas utama dalam hidupnya adalah supaya agama Yudaisme menjadi agama yang dikenal dan diikuti oleh orang banyak. Ini semua sangat didukung oleh manyarakat Yahudi pada masa itu.


Namun Paulus katakan: “ ketika saya berjumpa dengan Kristus, saya mengganggap yang dahulu itu kerugian”. Saat ini ketika saya menuliskan surat ini pada jemaat di Filipi, saya tidak menyesal menganggap yang dahulu itu kerugian, bahkan itu bukan prioritas utama saya, melainkan prioritas yang lainpun di luar Kristus bagiku adalah rugi. Bagi Paulus kebanggaannya dahulu atau prioritasnya di luar Kristus adalah sampah. Sampah yang dimaksud adalah sesuatu yang dibuang dan tidak ada orang yang mau mengambilnya, karena merasa jijik. Semuanya ini karena ia bertemu Kristus dan memiliki prioritas yang baru yaitu memperkenalkan Yesus Kristus Tuhan. Walaupun ia kali ini tidak mendapatkan kemudahan atau tidak dapat dukungan dari mayoritas orang Yahudi seperti sebelumnya, ia tetap melakukannya karena itu adalah prioritas Paulus dalam hidupnya. Kenapa? Karena Kristus memprioritaskannya dan kepastian keselamatan dalam Kristus.

Apa yang menjadi prioritas utama kita? Kesenangan, hobi, pekerjaan, nama baik, keluarga, pacar atau teman? Jika prioritas utama kita seperti yang di atas maka kita sama dengan Paulus yang belum berjumpa dengan Kristus. Namun kita katakana bahwa, kita adalah orang yang mencintai Tuhan dan sudah beroleh anugerah dari Tuhan. Makan mari kita respon anugerah Tuhan itu dengan memprioritaskan atau mendahulukan atau menomorsatukan Tuhan dalam hidup kita. Kenapa? Karena Dia sudah memprioritaskan kita untuk diselamatkan dan hanya di dalam Dia ada keselamatan.

Abraham dan John Sung adalah contoh orang yang memprioritaskan, menomorsatukan Tuhan, mengutamakan Tuhan dalam hidupnya melebihi semua prioritasnya atau keinginannya yang lain. Akhirnya merekapun dikenang sebagai orang yang luar biasa karena Tuhan membuat mereka luar biasa.
Soli Deo Glory

Baca selengkapnya »»

Menjadi Pahlawan Kesetiaan

.
0 komentar

Daniel 3:1-18

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), setia diartikan sebagai suatu sikap yang tetap berpegang teguh pada pendirian, janji dan tanggung jawab. Jika kita berbicara tentang kesetiaan dari sudut pandang agama, maka kesetiaan diartikan sebagai salah satu sifat atau kualitas pribadi yang berlaku baik bagi Tuhan maupun bagi manusia. Artinya kesetiaan itu tidaklah abstrak tetapi nyata, berbentuk, ada wujud, ada bukti yang bisa kita lihat (Yakobus 2:26).


Kitab Daniel ditulis untuk membangkitkan semangat orang-orang percaya dan juga orang-orang yang bimbang pada masa pemerintahan Antiokhus IV dimana mereka mengalami penganiayaan dan penindasan untuk mempertahankan iman percaya mereka kepada Tuhan. Mereka diperhadapkan antara menyembah kepada dewa atau kepada Tuhan.

Dalam teks perenungan kita yaitu Daniel 3:1-18 ada 3 hal yang menjadikan seseorang menjadi pahlawan kesetiaan:
1. Setia bukan karena berkat
Tokoh Sadrakh, Mesakh dan Abednego membuktikan kesetiaan kepada Tuhan bukan hanya pada saat mereka sepertinya diberkati atau dalam posisi aman, nyaman dan berlimpah materi. Daniel 1:8-9 sebagai orang-orang pilihan raja, Daniel dan teman-temannya tetap menjaga kesetiaan dihadapan Tuhan, bahkan ketika mereka seakan hidup senang sekalipun. Dan lebih jelasnya ketika Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam posisi dimana berkat sepertinya tidak lagi ada dalam kehidupan manusia.

2. Setia bukan karena situasi
Situasi dan keadaan yang dihadapi oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego bukanlah situasi yang biasa-biasa saja, tetapi sedang mempertaruhkan nyawa mereka, antara hidup dan mati. Tetapi dalam ayat 17-18 jelas sekali ketegasan dan keteguhan mereka untuk setia kepada Tuhan, bukan karena malu sama orang lain yang melihat dan tekanan, lalu mereka mau menyembah kepada patung dan meninggalkan Tuhan. Mereka tidak paham dengan iman yang situasional alias iman yang mood-moodan.

3. Setia tanpa syarat
Hal yang mendasar tentang iman kepercayaan kita kepada Tuhan adalah kesetiaan yang tanpa syarat sebagaimana Tuhan begitu setia dalam kehidupan pribadi lepas pribadi. Hal inilah yang mendasari kesetiaan Sadrakh, Mesakh dan Abednego sehingga mereka begitu kokoh dan setia kepada Tuhan. Sekalipun Tuhan “sepertinya” tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan mereka tetapi mereka tetap setia dan yakin bahwa Tuhan akan menolong mereka.

Menjadi pahlawan kesetiaan dibutuhkan komitmen yang sungguh-sungguh untuk tetap berjuang dan berharap hanya kepada Tuhan. Hal ini dapat terlihat ketika kita dalam kondisi dan situasi yang sulit sekalipun tetap kita berharap kepada Tuhan. Hal inilah yang disebut kesetiaan, nyata dan berbentuk. Sejauh mana dan bagaimana kesetiaan kita selama ini? Apakah kita setia hanya karena situasi, kondisi dank arena motivasi yang salah?

Untuk bisa hidup dalam ritme Allah dibutuhkan kesetiaan sebagai modal untuk bisa menapaki hari-hari ini di dalam Tuhan sehingga kita mengamini dalam hidup kita bahwa keadaan apapun yang kita alami adalah bagian dari rencana Tuhan. Selamat menjadi pahlawan kesetiaan.
Soly deo glory.

Baca selengkapnya »»

Menjaga Kesucian Hidup

.
0 komentar

1 Petrus 1:13-16

Manusia dalam natur keberdosaannya tidak mempunyai kemampuan untuk menguduskan dirinya sendiri. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah menjaga kekudusan hidup agar tidak lagi hidup dalam dosa yang ada. Pengudusan adalah proses yang hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri.


Dalam surat 1 Petrus 1:13-16 berbicara bagaimana seharusnya kita hidup kudus dihadapan Tuhan sebagai orang-orang yang telah dikuduskan dan dipisahkan untuk Tuhan. Kekudusan itu hendaknya terpancar dalam kehidupan setiap orang-orang percaya. Mengapa kita perlu menjaga kesucian hidup? Setidaknya ada 3 (tiga) hal alasan mengapa kita perlu menjaga kesucian hidup.
1. Karena itu kehendak Tuhan
Dalam teks perenungan kita jelas sekali Tuhan menghendaki kita agar hidup kudus dihadapanNya, sebagaimana Allah itu kudus. Tuhan menghendaki agar kita hidup sebagai pengikutNya, bukan sekedar formalitas tetapi kita benar-benar menjadi pengikut Kristus yang mengenal siapa Tuhan dalam kehidupan keluarga dan pribadi kita.

2. Karena kekudusan itu adalah natur manusia awal.
Allah menciptakan manusia kudus adanya dan diciptakan sedemikian indah (Kejadian 1:31), tetapi pemberontakan manusia terhadap Tuhan membuat natur keindahan dan kekudusan ini menjadi rusak sehingga menciptakan jarak antara manusia dengan Tuhan karena Tuhan kudus adanya. Dengan keadaan yang demikian Tuhan selalu menghendaki ciptaanNya agar bisa menjadi kudus kembali sebagaimana mestinya, tetapi pelanggaran tetap mengandung konsekuensi dan akibat. Hanya Tuhan sendirilah yang mampu menguduskan dengan kasih dan keadilanNya, maka manusia kembali diangkat dan dikuduskan melalui anakNya Yesus Kristus.

3. Karena Allah menginginkan kita untuk merefleksikan diriNya kepada dunia.
Sebagai orang-orang yang telah dipisahkan untuk Tuhan maka Tuhan menginginkan kita untuk menyatakan kekudusanNya di tengah-tengah dunia ini melalui kesucian hidup kita. Dengan demikian dunia boleh memandang kepada Bapa sang Kudus sumber kehidupan.

Bagaimana seorang Kristen menjaga kesucian hidupnya sehingga tetap berada dalam kekudusan? Rick Warren mengilustrasikannya dengan baik. Kita pasti mengenal ikan-ikan dilaut yang telah hidup di air asin sepanjang hidupnya, tetapi ikan-ikan itu tidak pernah menjadi asin. Hidup dalam lingkungan dimana setiap saat dikelilingi air asin yang begitu asinnya, sehingga kita pun tidak dapat meminumnya. Seperti Ia dapat memisahkan ikan itu dan memeliharanya di lingkungan air asin tetapi tidak membuatnya asin. Allah dapat menjaga kita dalam dunia tercemar dan menjaga hati dan pikiran kita tetap bersih, asal kita mau memberi hati untuk Tuhan, bukan hati yang setengah-setengah tetapi sepenuhnya, sebulatnya. Maka percayalah kekudusan yang telah Tuhan berikan dalam diri kita akan terpelihara dan terjaga atas tuntunan dan pertolongan Tuhan. Pertanyaannya adalah seberapa besar kita memberi hidup ini untuk Tuhan? Sehingga kita boleh terjaga dalam kesucian hidup dan sampai akhirnya Tuhan melihat kekudusan itu tetap ada dalam kehidupan kita. Sehingga Tuhan tersenyum melihat kita dan berkata : engkau adalah bagian dari kerajaanKu, karena engkau tahu yang kukehendaki dalam dirimu, engkau memelihara yang telah kutaruh dalam dirimu dan melalui engkau dunia boleh menyaksikan kasihKu.
Soli deo glory

Baca selengkapnya »»

MengenalMu - Giving My Best

.
0 komentar


BILA KU BUKA MATAKU DAN LIHAT WAJAH-MU
KU TERKAGUM
BILA KU LIHAT HIDUPKU DAN KARYA TANGAN-MU
KU TERSANJUNG

KAR’NA SEMUA YANG BAIK DALAM HIDUPKU
ITULAH KARYA-MU
KAU B’RI KESEMPATAN YANG BARU

DAN KU INGIN MENGENAL-MU TUHAN
LEBIH DALAM DARI S’MUA YANG KU KENAL
TIADA KASIH YANG MELEBIHI-MU
KU ADA UNTUK MENJADI PENYEMBAH-MU

Music : Giving My Best
Lyrics : Sidney Mohede

Sumber : kidung.com & 4shared.com

Baca selengkapnya »»

Cara hidup Menguasai Diri

.
0 komentar

Galatia 5 : 22-24

Salah satu dari Sembilan buah –buah Roh yang tidak mudah dilakukan adalah penguasaan diri. Banyak orang Kristen jatuh bangun dalam hal penguasaan diri, karena kebanyakan mereka tidak memahami dasar-dasar kekristenan dengan baik, khususnya yang berhubungan dengan cara berpikir yang keliru sehingga memberontak pada firman Tuhan. Sebelum kita lebih jauh membicarakannya, mari kita lihat arti penguasaan diri :

  1. Ada yang mengatakan penguasaan diri atas makanan dan keinginan daging
  2. Plato mengatakan penguasaan diri atas keinginan daging, hawa nafsu dan seks
  3. Penguasaan diri atas segala hal (1 Korintus 9:27)
Alkitab sudah jelas mengatakan bahwa orang Kristen harus menguasai diri dalam segala hal, juga dikatakan harus berpikir begitu rupa agar dapat menguasai diri (Roma 12:3). Tetapi banyak orang gagal melakukannya.
Ada beberapa alasan yang membuat orang Kristen tidak berhasil melakukannya : pertama, salah memahami visi diri pribadi dan kedua, salah memahami visi tentang rasa berharga dan rasa nyaman diri pribadi.

1. Visi tentang diri pribadi.
Cara kita memandang diri kita sangat mempengaruhi pikiran dan perasaan kita. Kalau mengganggap diri lemah dan kalah maka akan bertingkah laku sebagai orang lemah dan kalah, kemudian akan menerima diri sebagai orang yang lemah dan kalah. Bahkan orang lain pun akan melihatnya sebagai orang yang lemah dan kalah. Kalau orang yang lemah dan kalah, bagaimana bisa menguasai diri?

2. Visi tentang rasa berharga dan rasa aman diri pribadi.Banyak orang merasa berharga karena memiliki rumah yang bagus, mobil bagus, kartu kredit lebih dari lima, makan di restoran terkenal dan lain-lain. Semuanya itu bukan dilakukan karena kebutuhan semata, tetapi karena ingin dipuji, disanjung dan karena gengsi. Padahal rasa berharga yang sejati adalah karena saya adalah milik Kristus, kemudian hidup saya berdampak bagi yang lain melalui pelayanan yang saya lakukan. Sekalipun pekerjaan yang saya lakukan adalah pekerjaan sederhana, apa yang saya miliki adalah barang-barang sederhana, banyak pergumulan hidup; keluarga, anak-anak, kesehatan dan banyak lagi. Namun demikian saya masih tetap merasakan pertolonganNya yang menggetarkan, saya adalh milikNya, Dia yang memberikan segala yang kuperlukan, Dia tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkanku, dan aku berharga dimataNya. Sedangkan rasa aman sering disalahpahami secara keliru karena merasa ditolak atau tertolak oleh pasangan, teman atau komunitas. Misalnya seorang wanita yang merasa tertolak dengan suaminya, dengan mudah terjatuh kepada pria lain karena ia merasa diterima, tanpa memikirkan komitmen dengan pasangannya. Padahal penerimaan sejati ada hanya oleh Yesus Kristus yang menerima setiap orang yang datang dan percaya kepadaNya apa adanya dan tanpa syarat.
Cara-cara berpikir yang keliru demikianlah yang mebuat banyak orang tidak dapat menguasai diri dan akhirnya tanpa disadari telah memberontak dan melawan perintah Tuhan.

Kesimpulan :
~ Memahami dasar-dasar Kristen dengan baik tentang diri, rasa berharga dan rasa aman, akan mengetahui hidupnya dipimpin oleh Roh.
~ Mengetahui hidup dipimpin oleh Roh akan dapat menguasai diri.
~ Apapun pergumulan hidup yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup orang percaya akan ditolong Tuhan untuk mengatasinya karena setiap anak-anak Tuhan berharga dimataNya.


Baca selengkapnya »»
 
| Copyright© 2007-2011. Gepekris Poris Indah Tangerang . All rights reserved |
Powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Edited by Jonny
Sekretariat : Jl. Poris Indah raya Blok CP IV no 11 Tangerang