Kejadian 11:1-9
Pada perikop ini, menceritakan tentang Tuhan mengacaubalaukan bahasa dan diserakkan manusia keseluruh bumi. Pada ayat 1 mengatakan manusia “satu bahasa” dan “satu logat”, berarti menjadi satu kesatuan dan bahasa merupakan alat pemersatu. Dalam konteks ini, mereka pergi dan menetap disuatu tempat dan hidup berdampingan. Kemudian mereka membuat rencana, yakni membangun kota atau menara yang tinggi, dengan kata lain bahwa mereka memiliki keinginan untuk menbangun masa depan yang lebih baik. Kemudian mereka mencari sebuah “nama”, memberikan nama itu penting, sebagai identitas dan mengenal, hal ini juga adalah baik.
Pembangunan itu menjadi masalah adalah ketika muncul ayat 5 “lalu turunlah Tuhan untuk melihat kota dan menara yang didirikan manusia”, Kemudian Tuhan mengacaubalaukan umat manusia. Apakah yang salah dengan mereka? Tuhan melihat dan menemukan dosa di sana, yakni dosa karena tidak taat, Tuhan minta pergi untuk penuhi bumi, malah menetap supaya tidak terserak. Hal itu adalah sikap pemberontakan kepada Tuhan. Dosa selanjutnya, adanya kesombongan, merasa bisa, dapat melakukan sendiri tanpa Tuhan. Dan kemudian ada spirit pemujaan dewa di sana.
Terdapat beberapa hal yang dapat kita pelajari dari perikop ini, yakni:
1. Taatilah apa yang Tuhan perintahkan Pada waktu itu, Tuhan meminta mereka pergi, berpencar, penuhi bumi. Tetapi mereka lebih memilih menetap, lebih nyaman, lebih tidak ada resiko. Dengan kata lain mereka menciptakan “comfort zone”, dibanding mengikuti perintah Tuhan. Maka ketika Tuhan minta kita pergi, jangan berdiam diri. Taat dan pergilah! Sebagai tandanya bahwa kita ini pergi atau belum, yakni ketika kita merasa semakin sulit melepaskan comfort zone kita. Itu tandanya bahwa kita berdiam di tempat dan tidak pergi`
2. Dari segala sesuatu yang kita kerjakan dalam hidup ini, fokusnya bukan diri kita tapi Tuhan Dari ayat 3-4 berulang kali menggunakan kalimat “marilah kita…” dan “supaya kita…” dengan kata lain bahwa pikiran pikiran seperti itu adalah pikiran yang egois, demi kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Tuhan mau bahwa focus hidup bukan untuk diri sendiri, tapi fokusnya hanya untuk Tuhan.
3. Kita dapat rencanakan tetapi Tuhan yang menentukan Dalam hidup ini, kita boleh memiliki perencanaan, keinginan-keinginan, kerjakanlah semua itu. Tapi ingat bahwa Tuhanlah yang menentukannya. Oleh sebab itu kerjakanlah sekuat tenaga sambil serahkan semuanya kepada Tuhan.
Akhirnya belajarlah cara hidup berbagi dan jangan egois hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga. Berbagi dari apa yang engkau punya, berbagilah mengenai injil, berbagilah kemampuan, financial, nasehat dan sebagainya. Apapun yang kamu kerjakan, kerjakanlah dengan sekuat tenaga dan serahkanlah semuanya kepada Tuhan karena semua itu adalah titipan Tuhan.
Soli deo glory